Rabu, 01 April 2009

PUSAT INFORMASI YANG MURAH MURAH YANG DIBUTUHKAN MAHASISWA JAMBI; PERPUSTAKAAN DAPAT MENUNJANG TUGAS MAHASISWA SEBAGAI AGEN SOCIAL CONTROL

PERAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SDM
PERPUSTAKAAN SEBAGAI JANTUNG PENDIDIKAN DI PGT, MAKA SARANA PRASARANA HARUS TERUS DIBENAHI BEGITU JUGA LAYANAN PERPUSTAKAAN HARUS TERUS DITINGKATKAN.

Pendahuluan

Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini telah mampu melahirkan dan membawa sejumlah dampak serta implikasi tersendiri bagi kehidupan umat manusia. Baik dalam cara berfikir, berprilaku maupun dalam kegiatan kerja sehari-hari, manusia tidak lepas dari terpaan pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini dimungkinkan, disamping sifat yang kohesif pada iptek itu sendiri juga dimungkinkan karena pengaruh ledakan informasi yang kian hebat.
Dalam menghadapi pengaruh iptek dengan ledakan informasi tersebut, maka Perguruan Tinggi (PGT) diharapkan memainkan peranannya, dimana dari PGT ini, dapat melahirkan kaum elit intelektual yang mampu mengadakan “transfer of technology” juga mampu mengadakan perubahan-perubahan. Karena itu, dalam Kebijaksanaan Dasar Pengembangan Pendidikan Tinggi (KDPPT) dikatakan: pendidikan tinggi harus dapat menghubungkan keadaan sekarang dan masa depan, harus dapat mengusahakan ditemukannya arah modernisasi yang dituju yaitu menuju kepada pembangunan masyarakat dikemudian hari. Sehubungan dengan persoalan tersebut maka jelas dipundak PGT diemban sebagai salah satu sarana pembangunan manusia kini dan masa mendatang. Oleh karena itu PGT sebagai pemegang Tri Dharma, mempunyai kewenangan untuk mencari hal baru yang dapat memberikan sumbangan kearah terlaksananya proses alih iptek. Selain itu melalui mereka ( baca : Mahasiswa) diharapkan dapat mengarahkan masyarakat Indonesia menuju masa depan yang lebih baik, artinya dari mahasiswa sebagai “agen of social progress” dapat mempersenyawakan kemajuan iptek kaitannya dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Untuk dapat memainkan peran tersebut, sudah selayaknya mahasiswa tidak hanya berpangku tangan saja, melainkan harus berjuang lebih giat dalam belajar serta lebih memperluas pengetahuan dalam memperkaya khasanah pengetahuan mereka. Berkaitan dengan itu, untuk dapat mengembangkan dan memperluas cakrawala pengetahuan tersebut, mahasiswa dapat memperolehnya melalui pusat sumber belajar. Salah satu pusat sumber belajar yang ekonomis, praktis dan demokratis yaitu Perpustakaan.

Perpustakaan Perguruan Tinggi : Pusat Sumber Belajar.

Kehadiran Perpustakaan ditengah-tengah kehidupan PGT adalah untuk membantu memperlancar dan mempertinggi kualitas pelaksanaan program PGT melalui pelayanan informasi. Karena itu Perpustakaan PGT sangat berperan sebagai sarana penunjang pelaksanaan Tri Dharma yaitu dibidang pendidikan dan pengajaran, bidang penelitian dan di bidang pengabdian pada masyarakat.
Dalam menunjang pelaksanaan Program Tri Dharma dibidang pendidikan dan pengajaran, perpustakaan dapat memberikan informasi sesuai dengan kurikulum atau program akademis di PGT itu sendiri, sekaligus memperkaya pengetahuan dosen dan mahasiswa, mempertinggi kualitas pengajaran dosen dan mempertinggi hasil belajar mahasiswa. Pelaksanaan dibidang penelitian, peranan Perpustakaan PGT dapat menyediakan informasi yang relevan sebagai sumber referensi bagi suatu penelitian. Dan pelaksanaan dibidang pengabdian pada masyarakat perpustakaan PGT dapat berperan sebagai penyebarluasan informasi hasil penelitian ilmiah, merupakan bahan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Berdasarkan hal tersebut jelas konsekwensinya isi koleksi Perpustakaan PGT harus mencearminkan fungsi dan program PGT yang bersangkutan. Untuk menentukan berhasil tidaknya suatu misi perpustakan hal ini akan mencakup berbagai faktor. Ingat bahwa fungsi Perpustakaan PGT adalah “….the prime fungction of the university library is to provide facilities for study and research for member of us owan institution.” ( James Thomson : 1970). Dengan demikian keberhasilan pemanfaatan dan pendayagunaan perpustakaan oleh para mahasiswa, bukanlah suatu system yang berdiri sendiri, melainkan tergantung pada berbagai faktor antara lain adalah faktor koleksi relevansinya dengan kurikulum, system pengajaran dan tenaga perpustakaan. ( baca : Pustakawan).

Faktor Koleksi

Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa Perpustakaan PGT adalah merupakan penunjang Program Tri Dharma. Oleh karena itu perpustakaan harus berperan sebagai “learning resource center,” maka koleksi perpustakaan harus selaras dengan kurikulum yang jadi anutan di PGT yang bersangkutan, tetapi juga harus ada relevansinya dengan perkembangan iptek serta sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Tanpa adanya keselarasan ini, akan sulit mewujudkan fungsi dan peran perpustakaan sebagai penunjang program Tri Dharma PGT.

Faktor system pengajaran.

Agar koleksi perpustakaan dimanfaatkan oleh para mahasiswa, hanya akan terwujud apabila ditunjang dengan bentuk pengajaran yang baik pula, yaitu pengajaran tidak bersifat satu arah atau otoriter. Dalam bentuk pengajaran otoriter mahasiswa hanya jadi pendengar yang aktif cukup dosen saja. Metode seperti ini tidak menguntungkan karena seolah-olah mahasiswa dianggap cukup menelan mentah-mentah apa yang diajarkan oleh dosen tersebut, atau ditambah lagi bila hanya cukup menghapal diktat yang ditulis oleh dosen bersangkutan. Dalam keadaan demikian bagaimana mahasiswa bisa datang ke perpustakaan untuk memperluas dan memperkaya pengetahuannya.? Jadi untuk dapat dimanfaatkan koleksi perpustakaan oleh mahasiswanya, selain bentuk pengajaran dengan CBMA ( baca : Cara Belajar Mahasiswa Aktif), tetapi kerjasama antara dosen dan pustakawan PGT harus dibina, agar perpustakaan dapat didayaguknakan secara maksimal sesuai dengan program kurikulum bersangkutan.
Dengan metode mengajar yang menjadikan suasana dialog antara dosen dan mahasiswa, mau tidak mau, mereka akan sama-sama mempersiapkan diri untuk beradu argumentasi. Disamping itu dosen harus tetap terbiasa memberikan tugas kepada mahasiswa dengan topik tertentu yang dapat dikembangkan dengan referensi yang ada di perpustakaan. Dengan demikian, selain materi kuliah bisa dikuasai mahasiswa , tetapi juga akan dapat menambah dan memperluas cakrawala berfikir mahasiswa kearah yang konstruktif, sehingga akhirnya misi PGT sebagai pengemban Tri Dharma dapat tercapai.

Faktor Tenaga Perpustakaan

Kemampuan tenaga perpustakaan ( Pustakawan) PGT agar dapat meningkatkan pengetahuan pemakainya diperlukan pustakawan yang professional, yaitu pustakawan yang mempunyai cakrawala berfikir yang luas, yang mengerti dan memahami situasi dan kondisi para pemakainya. Selain itu pustakawan harus menyadari tugasnya, karena akan membantu pemakai khususnya para mahasiswa dalam mencari informasi yang dibutuhkannya. Bahkan pustakawan harus mampu mengikuti perkembangan iptek dan mengaplikasikan teknologi informasi dalam pengelolaaan informasinya. Para mahasiswa datang ke perpustakaan karena memerlukan informasi. Mereka bertanya tentang berbagai masalah di perpustakaan tentu pada pustakawan. Kalau pustakawannya acuh tak acuh untuk menjawab atau tidak mau menunjukkan informasi itu disimpan, apalagi mengatakan tidak tahu. Hal ini akan menjatuhkan citra perpustakaan itu sendiri. Pustakawan PGT sudah seharusnya tidak mengatakan tidak tahu, walaupun memang ia tidak tahu. Maksudnya pustakawan harus mempunyai strategi tersendiri untuk menyampaikan ketidaktahuannya dengan mencoba mencarikan jalan keluarnya agar pengunjung bisa mencarinya walaupun bukan di perpustakaan itu sendiri. Pustakawan harus dapat menetapkan dan menyediakan informasi baru, informasi yang sesuai dengan arus “ledakan iptek” yang setiap harinya terus berubah, sehingga dapat memuaskan kebutuhan pemakainya. Jadi pustakawan bukan hanya menyelanggarakan peminjaman buku, tetapi lebih dari itu pustakawan harus dapat menyediakan informasi berupa indeks, Katalog induk dari berbagai perpustakaaan, abstrak, jasa silang layan informasi, jasa penelusuran baik manual maupun elektronik, jasa informasi yang terseleksi dan lain sebagainya. Apalagi sekarang yang serba digital, dengan HP saja orang sudah mudah mendapatkan informasi, karena itu internet sudah seharusnya ada diperpustakaan, karena perpustakaan digital atau perpustakaan elektronik sudah seharusnya diterapkan di Perpustakan PGT di Indonesia, kalau tidak bangsa kita akan jauh tertinggal dengan bangsa lain.
Dengan tenaga kerja ( Pustakawan) Perpustakaan PGT tersebut, akan dapat berfungsi dan berperan sebagai penunjang kurikulum sekaligus dapat menunjang PGT sebagai pengemban Tri Dharma. Sehingga akan menentukan kualitas pelaksanaan pelayanan perpustakaan.
Akhirnya peran perpustakakaan sebagai pusat sumber belajar akan dapat menunjang studi mahasiswa, terutama dalam menambah dan memperluas cakrawala pengetahuan, akan dapat melahirkan kaum intelektual pembangunan yang dapat melahirkan sumber daya manusia berkualitas serta membangun masyarakat dan lingkungannya. sekaligus melahirkan generasi yang berani merintis jalan baru dalam pembangunan bangsa.
( Penulis : Iswara Rusniady : Pustakawan Perpusda Jambi)
di 08:42 Diposkan oleh pustakawan 0 komentar
MASIH BANYAK KARYA BUDAYA YANG BELUM DI SERAHKAN PADA BADAN PERPUSTAKAAN PROVINSI JAMBI MAUPUN KE PERPUSTAKAAN NASIONAL RI
Dalam upaya untuk menyelamatkan dan melestarikan hasil budaya bangsa atau budaya daerah yang berupa karya cetak dan karya rekam. Pemerintah telah mengeluarkan perundangan dan peraturan pelaksanaan dalam upaya melestarikan budaya bangsa tersebut, yaitu adanya UU No.4 Tahun 1990 tentang serah simpan karya cetak dan karya rekam, PP No.70 Tahun 1991 tentang pelaksanaan UU No.4 Tahun 1990, PP No. 23 Tahun 1999 tentang pelaksanaan serah simpan dan pengelolaan karya rekam film cerita atau film dokumenter, bahkan hampir tiap Provinsi telah ada yang telah menerbitkan Perda dan Instruksi Gubernur tentang wajib serah simpan karya cetak dan karya rekam.
Untuk Pemerintah Provinsi Jambi, telah diterbitkan Instruksi Gubernur Jambi No.3 Tahun 2006, hal ini untuk memperlancar upaya pengumpulan dan pelestarian karya budaya bangsa, terutama yang diterbitkan atau direkam di daerah tersebut. Namun sekarang masalahnya, masih banyak diantara penerbit dan pengusaha rekaman (industri rekaman) banyak yang belum menyerahkan karya cetak dan karya rekam tersebut. Begitu juga penerbit dan pengusaha rekaman yang ada di wilayah Provinsi Jambi masih banyak yang tidak menyerahkan, jika menyerahkanpun mereka umumnya tidak secara rutin. Hal ini barangkali menjadi tugas dari Perpustakaan Nasional RI dan Perpustakaan Daerah yang ada di Provinsi untuk mengantisifasi hal ini.
Badan Perpustakaan Provinsi Jambi yang berkedudukan di Ibukota Provinsi, salah satunya mempunyai tugas untuk menghimpun, menyimpan, melestarikan dan mendayagunakan karya cetak dan karya rekam yang dihasilkan di daerah dalam wilayah Provinsi Jambi. Badan Perpustakaan Provinsi Jambi sebagai salah satu Institusi pemerintah Provinsi Jambi yang diberi tugas oleh UU No.4 Tahun 1990, yaitu mengatur kegiatan serah simpan karya cetak dan karya rekam di daerah Jambi, dalam pelaksanaannya mengalami berbagai hambatan dan permasalahan, diantaranya masih belum optimalnya penyerahan karya cetak dan karya rekam yang dihasilkan para penerbit maupun industri rekaman yang ada di daerah Jambi, masih banyak penerbit, baik penerbit pemerintah, penerbit swasta maupun pengusaha rekaman/industri rekaman, banyak yang belum memenuhi kewajibannya yaitu menyerahkan setiap karya yang dihasilkannya kepada Perpustakaan Nasional RI dan Badan Perpustakaan Provinsi Jambi.
Berbagai upaya yang dilakukan Badan Perpustakaan Provinsi Jambi dalam mengoptimalisasikan pelaksanaan UU No.4 Tahun 1990, telah dilakukan kegiatan sosialisasi/penyuluhan ditiap Kabupaten/Kota dalam Provinsi Jambi, dalam pelaksanaan sosialisasi tersebut melibatkan instansi terkait yaitu dari Kejati dan Polda Jambi, melakukan pemantauan dan pelacakan pada setiap penerbit, baik itu penerbit pemerintah, penerbit koran di daerah, serta pada para pengusaha rekaman yang ada di daerah.Selain itu juga telah dilakukan, pemberitaan /iklan wajib serah simpan melalui media massa, baik media cetak maupun media elektronik, penyebaran brosur, stiker, foster, pembuatan billboard dan sebagainya. Namun hasilnya masih belum menunjukan hasil yang memuaskan. Karena dalam UU NO.4 Tahun 1990 disebutkan bahwa setiap penerbit maupun pengusaha rekaman diwajibkan untuk menyerahkan dari tiap judul buku yang diterbitkan wajib diserahkan ke Perpustakaan Nasional RI 2 eksemplar/buah, ke Perpustakaan Daerah Provinsi 1 eksemplar, begitu juga pengusaha rekaman, dari setiap rekaman yang dihasilkan diwajibkan diserahkan 1 buah ke Perpustakaan Nasional RI dan wajib diserahkan ke Perpustakaan Daerah Provinsi 1 buah.
Disamping itu juga, untuk mensinergikan/mengkoordinasikan, harmonisasi hubungan antara Pemerintah Pusat ( Perpustakaan Nasional RI ), Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota dalam wilayah Provinsi Jambi, untuk menyamakan persepsi, pola pikir, dalam implementasi Pelaksanaan UU No.4 Tahun 1990, agar hasil budaya masyarakat sebagai khasanah budaya daerah berupa karya cetak dan karya rekam, dapat dihimpun dan diserahkan ke Badan Perpustakaan Provinsi Jambi, untuk meningkatkan pelaksanaan “law enforcement” terhadapa wajib serah simpan karya cetak dan karya rekam di daerah/wilayah Provinsi Jambi, dan untuk menginventarisasi permasalahan dan masukan dalam implementasi pelaksanaan UU No.4 Tahun 1990, telah dilakukan Rapat Koordinasi Pemantauan dan evaluasi Pelaksanaan UU No.4 Tahun 1990 tentang serah simpan karya cetak dan karya rekam di Provinsi Jambi, yang melibatkan Tim Koordinasi Pemantau tingkat Provinsi, yaitu unsur dari Polda, Kejati, SPS, Penerbit buku pemerintah/swasta, Dinas kebudayaan dan parawisata, Biro Hukum dan Humas Pemprov. Jambi, termasuk Badan Perpustakaan Provinsi Jambi, telah mengadakan Rakoor yang mengundang perwakilan penerbit/pengusaha rekaman di daaerah kabupaten/kota, para kabag.. Hukum/humas pemda Kab./kota, dan para Kepala Perpustakaan Umum Kab/kita dalam Provinsi Jambi. ( Lihat rumusan hasil rakor pemantauan dan evaluasi pelaksanaan UU No.4 Tahun 1990, yang diakan Badan Perpustakaan Provinsi Jambi, tanggal 6 Desember 2007). Namun inipun masih belum menunjukan optimalnya penyerahan karya cetak dan karya rekam yang dihasilkan di daerah. Dengan dasar itu juga, Perpustakaan Nasional RI Tahun 2008 yang lalu mengadakan Rakoor Kegiatan Deposit tingkat Nasional, yang diadakan di Hotel Aston Jakarta pada tanggal 29-31 Oktober 2008. ( Penulis : Iswara Rusniady )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar